Interprestasi dan Manfaat Citra Penginderaan Jauh

Interprestasi Citra Penginderaan Jauh

Interprestasi foto udara disesuaikan dengan kenampakan pada citra dan ciri-ciri dari objek yang ada dilapangan. Alat untuk menginterprestasikan citra penginderaan yaitu stereoskop. Unsur interprestasi peta ada 9 yaitu:

  1. Rona dan warna; rona merupakan tingkat kegelapan atau kecerahan objek pada citra. Warna merupakan wujud tampak dengan menggunakan spektrum ynag sempit. Contoh: batuan kapur tampak cerah.
  2. Bentuk adalah kerangka suatu objek. Contoh: gunung api berbentuk krucut.
  3. Ukuran adalah atribut objek berupa jarak, luas, tinggi, lereng, dan volum. Contoh: lapangan olah raga selain dicirikan bentuk segi empat, tetapi juga dicirikan ukuran 80 m × 100 m (lapangan sepak bola) dan 15 m × 30 m (lapangan tenis).
  4. Tekstur adalah frekuensi perubahan rona dan citra, tekstur sering dinyatakan dengan kasar, sedang, dan halus. Contoh: hutan bertekstur kasar.
  5. Pola adalah ciri yang menandai banyaknya objek bentukkan manusia atau alam. Contohnya: pola aliran sungai dentrik mencirikan tanah dan batuan yang sama.
  6. Bayangan adalah bayangan objek yang dapat dijadikan kunci pengenalan objek yang tampak, justru melalui bayangannya. Contoh: bak air yang dipasang tinggi.
  7. Situs adalah ciri objek secara langsung melainkan dalam kaitannya dengan lingkungan sekitar. Contoh: situs kebun kopi terletak pada lahan yang miring karena membutuhkan drainase yang baik.
  8. Asosiasi adalah keterikatan antara objek yang satu dengan objek yang lain sehingga asosiasi dapat dijadikan petunjuk bagi adanya objek lain. Contoh: lapangan bola mudah diidentifikasi dengan adanya gawang. Gawang merupakan asosiasi terhadap lapangan.
  9. Konvergensi bukti adalah penggunaan beberapa interprestasi citra sehingga lingkupnya menjadi semakin menyempit ke satu arah sehingga diperoleh kesimpulan tertentu dari objek tersebut.

Manfaat Citra Penginderaan Jauh

  1. Membantu menganalisis cuaca dan prakiraan atau prediksi cuaca dengan menentukan daerah bertekanan tinggi, daerah bertekanan rendah, daerah hujan, daerah badai sikllon, dan lain-lain (Meteorologi).
  2. Digunakan untuk pengamatan iklim di wilayah tertentu, penganalisisan cuaca, serta pemetaan iklim dan perubahannya (Klimatologi).
  3. Citra dapat digunakan untuk membantu menganalisis perairan darat, sehingga memudahkan perencanaan pembangunan daerah sehubungan dengan ketersediaan air; digunakan dalam pengamatan Daerah Aliran Sungai (DAS), pengamatan luas daerah dan intensitas banjir, pemetaan pola aliran sungai, serta penelitian sedimentasi sungai (Bidang hidrologi).
  4. Digunakan untuk pemetaan penggunaan lahan, mendeteksi lahan kritis, dan mengumpulkan data kerusakan lingkungan (SDA).
  5. Imformasi tentang keadaan lahan, citra dapat digunakan untuk membantu perencanaan tata guna tanah, misalnya untuk pemukiman, perindustrian, areal pertanian, dan areal hutan.
  6. Melalui jenis citra tertentu dan dengan menggunakan streoskop (alat untuk menginterprestasi citra penginderaan jauh), dari citra dapat diperoleh gambaran tiga dimensi yang menguntungkan dalam berbagai hal antara lain: Menyajikan model medan secara jelas, Keadaan relief lebih jelas, Memungkinkan pengukuran perbedaan ketinggian tempat, dan Memungkinkan pengukuran volume benda yang ada, misalnya volume kayu.
  7. Mengenali karakteristik objek, misalnya kita dapat mengenali objek yang tidak dapat dikenali berdasarkan perbedaan suhu.
  8. citra dapat memberikan petunjuk untuk pemetaan daerah bencana alam secara cepat pada saat terjadi bencana.
  9. Citra merupakan alat yang baik untuk memantau perubahan yang terjadi di suatu daerah, seperti permukaan hutan, pemekaran kota, dan perubahan kualitas lingkungan.
  10. Citra juga dapat digunakan untuk meramalkan keadaan di masa yang akan datang dan sekaligus untuk mencegah berbagai kemungkinan kejadian di masa mendatang.
  11. Bagi para peneliti di bidang geografi, citra mampu memberikan data geografi sehingga memudahkan untuk membuat suatu hubungan antara fenomena yang satu dan fenomena yang lain serta mengambil suatu keputusan, dan citra juga dapat digunakan untuk menjelaskan keruangan, baik secara parsial maupun secara kompleks.
  12. Dalam bidang pertanian dan kehutanan, foto satelit landsat dapat digunakan untuk mengidentifikasi hutan rawa, hutan lahan rendah, hutan mangrove, inventarisasi alang-alang, daerah pertanian lahan kering, ladang berpindah, dan lain-lain. Umumnya citra yang digunakan adalah Citra Landsat (Land resources satelite).
  13. Dalam bidang geografi, dari kenampakan wilayah (sungai, danau, jalan raya, desa dan kota) dapat digunakan untuk kepentingan pemetaan tematik dan perencanaan penggunaan tanah. Contoh: citra landsat, QuickBird, dan sebagainya.
  14. Dalam bidang geologi, dari kenampakan kelurusan, petahanan, dataran, perbukitan, pegunungan, kondisi fisiografi yang berbeda dapat dilacak dari foto udara citra. Umumnya memanfaatkan citra satelit QuickBird.
  15. Dalam bidang oseanografi, daerah yang terkena tumpahan minyak di laut dan arah aliran air laut yang mengandung endapan dari sungai dapat pula diidentifikasi melalui foto satelit. Arah ombak yang membawa endapan dari sungai dapat juga teridentifikasi. Contoh: citra MOS (Marine Observation Satelite) dan citra Seasat (Sea Satelite).
  16. Dalam bidang arkeologi, penentuan situs purbakala bagi kajian arkeologi modern memerlukan data satelit dan data penginderaan jauh yang lain. Contohnya kajian situs bekas kerajaan Majapahit pernah dipelajari oleh tim gabungan dari bakosuratanal dan Fakultas Geografi UGM dengan menggunakan foto udara.

Leave a Comment